Sekarang aku iri, demi Allah aku iri!! Melihat orang tersenyum..... Ingin sekali, sungguh ingin ku rampas senyuman itu tuk mengisi semua senyuman ku yang tlah direbut oleh suatu kebodohan.
Bodoh sungguh Bodoh, baik Iqbal ataupun kau. Bodoh, Kenapa tidak bilang terlebih dahulu semuanya? Bodoh, kenapa terbawa emosi? Bodoh! Karena kebodohan semua sakit ini tercipta.
Sungguh Heran, Aku benar-benar heran!! kenapa kau ambil, kau pegang dan kau tusukan beribu-ribu pisau ke dalam dada kita. Kau sudah tahu; Aku, kau, dan semua kan terluka. Sakit!! Sungguh sakit!! Kau tahu rasanya perih? Aku mengerti sangat, sebab itu yang ku rasakan sekarang, tapi kau? Kurasa kau lebih mengerti 3x Lipat dari ku.
Aku kan cepat bangkit! Tapi kau? Bagaimana dengan kau? Kurasa kau butuh 3x lipat waktu lebih dari ku. Kau habiskan banyak waktu gara-gara sedikit masalah yang kecil, Bagaimana dengan ini? Rapuh.... tlah ku lihat rapuh di dalam. Aku Kuat! Tapi kau? Aku khawatir.... sungguh khawatir....
Sayang, Izinkan aku panggil kau dgn sebutan itu sekali lagi saja. Maaf, maaf, ku tlah terbakar bara amarah. Bias semua pandangan diri saat itu, sekarang dan sekarang. Terasa sulit tuk tersenyum tapi mudah tuk tertawa. Aku sadar sungguh benar-benar sadar semua bukan sepenuhnya salah mu, sebagian pula milik ku.
Andai saja lebih lapang!!
Andai saja lebih Demokratis!!
Andai saja lebih Dewasa!!
Andai saja lebih Tenang!!
Pasti tidak begini jadinya.
Sungguh, aku tak harap balas dari mu. Aku tak harap hangat tubuh mu, Sungguh, aku tak ingin cinta yang tlah hancur ini terkotori nafsu. Ku hanya memberi, tak harap apapun dari mu. Ku tak mengekang, ku hanya ingin kau bebas. Sungguh sekarang ini ialah pengorbanan terbesarku untuk mu, tapi alangkah kejinya seseorang jika mengkotori ini semua.
Ku tak ingin ratapi apa yang tlah terjadi. Ku hanya dapat hadapi semua yang tlah hancur. Bisa saja ku korbankan harga diri ku tuk membangun semua agar kembali lagi seperti semua, tapi untuk apa? Sudah cukup harga diri yang ku korbankan.
Ku hargai semua keputusan mu seperti ku menghargai diri ku. Semua tlah terjadi, Aku tak akan lari, Aku tetap akan bertahan, Aku bukan pecundang! Semua tlah terjadi, jangan ratapi lagi. Ini keputusan mu, ini rasa sakit mu, ini kebodohan mu dan sebagian milik ku. Ku tak akan meminta tapi aku kan coba untuk menerima. Ku hanya ingin memulai semua dari awal tampa ratapi yang telah terjadi.
Iqbal.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment